Senin, 30 Mei 2011

Biografi Habib Abdurrahman bin Assegaf

ac

Al Faqih ‘Abdullah bin ‘Umar Ba ‘Abbad berkata, “Digelari Al ‘Atthos karena ia bersin dalam perut ibunya.” Al Habib ‘Ali bin Hasan Al ‘Atthos berkata: “Apa yang diungkapkan oleh Syekh ‘Abdullah itu memang jelas dan benar adanya, dan berdasarkan riwayat yang kami temukan, orang yang pertama kali bersin dalam perut ibunya adalah Al Habib ‘Aqil bin Salim. Tetapi kemudian yang lebih dikenal menyandang gelar itu adalah Al Habib ‘Umar bin ‘Abdurrahman dan para keturunannya. Adapun keturunan Al Habib ‘Aqil bin Salim, mereka lebih dikenal dengan sebutan Al ‘Aqil bin Salim saja.”

• Kelahiran dan Masa Kecil

Shohiburrotib Al Habib ‘Umar bin ‘Abdurrahman bin ‘Aqil Al ‘Atthos bin Salim bin ‘Abdullah bin ‘Abdurrahman bin ‘Abdullah bin Syekh Wajihuddin ‘Abdurrahan As-Segaf bin Muhammad Maula Dawilah bin ‘Ali bin ‘Alwi bin Al Faqih Al Muqaddam Muhammad bin ‘Ali bin Muhammad Shohibul Marbath bin ‘Ali Kholi’ Qasam bin ‘Alwi bin Muhammad bin ‘Alwi bin ‘Ubaidillah bin Ahmad bin ‘Isa Ar-Rumi bin Muhammad An-Naqib bin ‘Ali Al ‘Uraidhi bin Ja’far Ash-Shadiq bin Muhammad Al Baqir bin ‘Ali Zainal ‘abidin bin Husein bin Fathimah Az-Zahro binti Rasulullah (saw) istri Imam ‘Ali bin Abi Thalib, lahir di kota Lisik tidak jauh dari kota Tarim pada tahun 992 H. Ayahnya yaitu As Sayyid ‘Abdurrahman bin ‘Aqil Al’Atthos adalah seorang ‘arif billah, sekaligus ‘ulama berpengetahuan luas. Ibundanya yaitu syarifah Muznah binti Muhammad bin Ahmad Al Jufri. Kakeknya As Sayyid ‘Aqil bin Salim adalah saudara kembar fakhrul Wujud Syekh Abu Bakar bin Salim Shohib ‘Inat.
Beliau dibesarkan di bawah bimbingan ayahandanya dengan bimbingan yang sempurna dan beradab tinggi. Sejak kecil beliau telah kehilangan penglihatan kedua matanya. Namun ALLAH menggantinya dengan mata hati yang bercahaya dan terang benderang, disertai kecerdasan yang luar biasa sehingga beliau mampu menghafal semua yang beliau dengan dari guru-guru beliau. Ayah beliau berkata kepada Syekh ‘Abdurrahman bin ‘Abdullah Al Junaid: “Hati-hati dengan anakku ‘Umar, karena kedua matanya tidak dapat melihat.” Syekh ‘Abdurrahman Al Junaid berkata, “Kedua mata lahir ‘Umar memang tidak dapat melihat, akan tetapi mata batinnya terang dan memancarkan cahaya.
Sewaktu ibunda beliau mendatangi salah seorang Sholihin seraya berkata, “Anak saya ini tidak bisa melihat, sedangkan ayahnya adalah seorang faqir yang tidak berharta.” Orang Shalih itu berkata, “Engkau tak perlu khawatir! Sesungguhnya anak ini kelak akan memiliki masa depan yang cemerlang dan keagungan maqom yang tak terbayangkan, dia akan memiliki keturunan yang sangat banyak seperti keluarga fulan bin fulan.”

• Hijrah ke Huraidhoh

Al Habib Husain bin Syekh Abu Bakar bin Salim seringkali berkata, “Wahai keluarga Ba ‘Alawi Huraidhoh.” Orang-oangpun bertanya keheranan, “Bukankah tidak ada satu orangpun dari kalangan ‘alawiyyin yang menetap di Huraidhoh?” Al Habib Husain berkata: “Mereka akan datang dan bermukim di Huraidhoh, tempat itu akan menjadi sebuah tempat yang ramai diziarahi, kubah-kubah dan masjid akan menghiasi kota itu.”
Sewaktu Al Habib ‘Umar masuk usia remaja, Al Habib Husein bin Asy-Syekh Abu Bakr memerintahkannya untuk pergi ke Huraidhoh sebagai juru dakwah yang menyebarkan ajaran islam disana. Al Habib ‘Umar pun bergegas untuk pergi berdakwah di Huraidhoh.
Pada saat darang ke Huraidhoh, beliau disambut oleh Najad Adz-Dzibani yang kemudian memintanya untuk tetap tinggal di rumahnya selama beliau berada di kota itu. Ia berkata “Rumah ini adalah rumah anda sendiri wahai Al Habib.”
Al Habib Umar memutuskan untuk menetap di Huraidhoh, beliau kembali ke Lisik untuk membawa seluruh anggota keluarganya. Setibanya di Huraidhoh, sang ayah, Al Habib ‘Abdurrahman Al ‘Atthas jatuh sakit dan meninggal dunia. Inna lillahi wa inna ilaihi roji’un.
Setelah Al Habib ‘Umar menetap di Huraidhoh, Syekh ‘Abdullah bin Ahmad Al ‘Afif (seorang wali besar) bernazar untuk mempersembahkan bagian dari kebun kurmanya untuk Al Habib ‘Umar. Tetapi setelah beliau terima, beliau menyerahkan pemberian itu kepada penduduk setempat. “Itulah nazar saya unruk kalian, maka terimalah nazar itu.”
“Kenapa tidak engkau tinggalkan untuk anak dan keluargamu?” kata sebagian orang. Al Habib ‘Umar menjawab, “Anak-anak saya kelak akan menguasai seluruh negeri ini.” Dan benar saja, anak cucu keturunan Al Habib ‘Umar Al ‘Atthas sangat banyak dan menyebar di seluruh penjuru negeri.

• Guru-guru besar Al Habib ‘Umar dan sanad-sanadnya

Shohiburrotib Al Habib ‘umar mengembil libas khirqoh dari Syekh Husein bin Syekh Abu bakar bin salim dan saudaranya Syekh ‘Umar Muhdhor. Mereka berdua mengambilnya dari ayah mereka, Syekh Abu Bakar bin Salim, Shohib ‘Inat. Syekh Abu Bakar mengambilnya dari Syekh Syihabuddin Ahmad bin ‘Abdurrahman, dari ayahnya Syekh ‘Abdurrahmab bin ‘Ali, dari ayahnya Syekh ‘Ali bin Abu Bakar, dari ayahnya SYekh Abu Bakr Assakran, dari ayahnya Asy-Syekh Al Kabir ‘Abdurrahman Assegaf. Asy-Syekh Al Kabir ‘Abdurrahman Assegaf mengambil libas khirqoh dari Muhammad Maula Dawilah, dari ayahnya ‘Ali, dari ayahnya Al Faqih Al Muqaddam Muhammad bin’Ali Ba’Alawi. Al Faqih Al Muqaddam Muhammad bin’Ali Ba’Alawi mengambil libas khirqoh: jalur kakek-kakek beliau dan jalur biasa.

Berkaitan dari jalur kakek-kakeknya, Al Faqih Al Muqaddam Muhammad bin’Ali Ba’Alawi mengambil dari Ali bin Muhammad Shohibul Mirbath, dari ‘Ali Khali’ Qasam, dari ‘Ali bin Muhammad Shohibul Shauma’ah, dari ‘alwi Shohibul Sumul, dari ‘Ubaidillan ibn Ahmad AL Muhajir, dari Isa Arrumi, dari Muhammad Annaqib, dari Al Imam ‘Ali Al ‘Uaidhi, dari Al Imam Ja’far Ash-shodiq, dari Al Imam Muhammad Al Baqir, dari al Imam ‘Ali Zainal ‘Abidin, dari ayah dan pamannya, Al Imam Husein dan Al Imam Hasan bin ‘Ali bin Abi tholib. Keduanya mengambil dari Rasulullah (saw). Sedangkan Rasulullah (saw) memperoleh pendidikan dari ALLAH (SWT) melalui Malaikat Jibril. Rasulullah (saw) berkata, “Tuhanku mendidik aku, dan didikan-NYA padaku sangat baik.”

Sedangkan melalui jalur biasa, Al Faqih Al Muqaddam mengambil libas khirqoh shufiyyah dari Syu’aib Abu Madyan at-Tilimsani Al Maghribi, melalui Syekh ‘Abdurrahman Al muq’ad dan Syekh ‘Abdullah Ash-Shaleh, dari Syekh Abu Ya’za Al Maghribi, dari Syekh Abul Hasan bin Harzam (Abu Harzam), dari Syekh Abu Abu Bakar bin Muhammad bin Abdullah bin al ‘Arabi dan Al Qadhi Al Maghafiri, dari Syekh Hujjatul Islam al Imam Ghazzali, dari Imam Haramain ‘Abdul Malik bin Asy-Syekh Abu ‘Abdillah bin Yusuf al Juwaini, dari ayahnya, dari Abu Thalib Al Makki, dari Asy-Syekh Al Ustadz Asy-Syibli, dari SAayyidut-Tha’ifah Al Junaid, dari Dawud Ath-Tha’I, dari Habib Al Ajmi’, dari hasan Al Bashri, dari Al Imam ‘Ali bin bin Abi Thalib. Selanjutnya Imam ‘Ali mengambil dari Rasulullah (saw) dan Rasulullah memperoleh pendidikan dari ALLAH (SWT) melalui Jibril.

• Murid-murid dan Thoriqoh Al Habib ‘Umar

Di antara murid Al Habib ‘Umarialah As-Sayyid Al habib ‘Abdullah bin Alwi Al Haddad. Dan murid-murid lainnya adalah :
Al habib Ahmad bin Zein Al Habsyi, As-Sayyidul Jalil Ahmad bin Hasyim Al Habsyi, As-Sayyidul Jalil ‘Ali bin ‘Umar bin Husein bin Asy-syekh ‘Ali, putera-putera Al habib ‘Umar sendiri dan masih banyak lagi murid-murid beliau lainnya, khususnya yang berasal dari Wadi Dau’an dari keturunan Al ‘Amudi dan keturunan para sayyid keluarga Al Barr, seperti Al Habib ‘Umar bin ‘Abdurrahman Al Barr.

• Karangan-karangan Al Habib ‘Umar
Tidak pernah kita dengar bahwa Al Habib ‘Umar memiliki karya tulis selain Ratibul ‘Atthas. Pernah ada seseorang bertanya kepada Al Habib Abdullah bin Alwi Al Haddad apa saja karya Al Habib ‘Umar Al ‘Atthas. Dengan tegasnya Al Habib Abdullah bin Alwi Al Haddad berkata, “aku adalah salah satu karya besar Al Habib ‘Umar bin ‘Abdurrahman Al ‘Atthas.”

Al Habib ‘Umar bin ‘Abdurrahman Al ‘Atthas wafat pada malam Kamis tanggal 23 Rabi’uts Tsani tahun 1072 H di rumah kediaman beliau di kota Nafhun, setelah sebelumnya beliau menderita sakit selama 7 hari. Jenazah beliau diantar ke Huraidhoh untuk dikebumikan di sana. Usai penguburan jasad beliau, Huraidhoh dibasahi oleh rintik-rintik hujan gerimis pertanda turunnya keberkahan pada kota Huraidhoh dan sekitarnya.
Semoga kelak kita semua dapat mengikuti jejak beliau dan semoga kita semua dibangkitkan dan dikumpulkan bersama beliau dan kakek-kakeknya sampai ke Rasulullah (saw), Amiin.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar